Home
iskanyaku - Prihatin-nya Lagu anak [entries|archive|friends|userinfo]
iskanyaku

[ userinfo | livejournal userinfo ]
[ archive | journal archive ]

Prihatin-nya Lagu anak [maijs. 8., 2008|03:40 am]
Previous Entry Add to Memories Tell a Friend Next Entry
Sekelompok anak-anak sedang bermain sepeda lewat depan rumah. Mereka ternyata sambil menyanyi, girang banget kelihatannya. Ya seperti laiknya anak kecil, riang gembira dan penuh tawa canda. Tapi yang bikin agak ga pas adalah lagu yang mereka nyanyikan. Lagu itu memang sedang hit dan milik sebuah grup band ternama di negeri ini. Apa yang salah dengan lagu itu, jawabnya “ tidak ada yang salah “. Cuma lagu itu ga pas kalo dinyanyikan anak-anak, liriknya jelas bukan kata-kata yang pantas buaat anak seusia mereka.
 
Masih ingat ga, waktu kecil suka nyanyiin lagu-lagunya Chica Koeswoyo, Adhi Bing Slamet, Yoan Tanamal, Debi Rhoma Irama, Puput Novel, Diana Papilaya dan masih banyak lagi. Masih inget juga ga, di era 80-an ada Semut-semut kecilnya Melissa, Maisy yang centil banget, Joshua yang suka ber Cit-cit Cuit, Lumba-lumbanya Bondan Prakoso, Chikita Meidi, Agnes Monika dan sederet lagi nama artis penyanyi cilik pada waktu itu. Cukup legend juga lagu-lagu mereka sampe sekarang. Sebenarnya masih banyak seh artis cilik era 70-an dan 80-an, Cuma itu aja yang masih nyantel dipikiran aku.
Selain lagu-lagu itu, aku juga suka dengerin cerita-cerita dari Sanggar Cerita baik lewat kaset maupun lewat radio. Pada waktu itu media paling dominant Cuma radio, tv hanya bisa 1 channel aja TVRI. Itu pun jarang ada acara untuk anak-anak selain film kartun dan acara-acara di hari minggu. Paling fenomenal adalah film Boneka Si Unyil yang sampai hari ini masih SD aja padahal aku udah kerja dan udah punya anak. Tapi lumayan lah buat hiburan anak-anak waktu itu.
 
Rasanya waktu itu kita benar-benar jadi anak-anak baik secara fisik maupun psikis. Beda dengan sekarang, kesingnya anak-anak tapi isinya wong gedhe. Betapa tidak, dari nonton film kartun aja yang tampil bukan cerita anak-anak, tapi cerita wong dewasa yang dikartunin. Coba aja lihat Naruto dan sebagainya. Lantas mereka lebih akrab dengan Cinta Fitri�, Cahaya� dan sejenisnya, biarpun ada pemain anak-anaknya tapi itu kan cerita konsumsi dewasa.
 
Di hari minggu kita bisa saksikan ada semacam kontes nyanyi yang diikuti oleh anak-anak para selebriti kita disalah satu station tv swasta. Lagu yang mereka bawakan mayoritas lagu-lagu orang dewasa. Aku pun langsung komen sama istri, kaya gitu kok acara buat anak-anak. Bagaimana dengan anak-anak kita nanti kalo lagu-lagu yang pantas buat mereka aja ga ada. Anak sekarang jadi lebih cepat dewasa terkekang dalam tubuh anak-anak. Lebih heran lagi, mertuaku “ ngudang � (aku ga nemu kata dalam bahasa Indonesia ) cucunya aja pake lagu Kucing Garong. Eh si anak ya ikut goyang-goyang juga.
 
Secara psikis pertumbuhan anak-anak itu ada grade-gradenya, atau ada fase-fasenya. Anak-anak secara normal akan selalu meniru apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Jadi jangan heran bila suatu saat nanti anak kita tiba-tiba mengeluarkan “ kebun binatang “ dalam kata-katanya. Mereka tidak salah cobalah cermati dengan siapa dan dimana mereka bergaul/bermain. Begitu juga kita harus cermat juga dengan tontonan yang pas buat mereka. Setidak-tidaknya sesuai dengan fase-fase pertumbuhan mereka. Jangan paksakan anak-anak untuk mempelajari sesuatu yang belum sesuai dengan tingkat penalaran mereka.
 
Lagu merupakan salah satu bentuk seni yang ada di dunia ini. Kita bisa menikmatinya baik dalam bentuk musik maupun liriknya. Kata-kata indah tertuang disana dan biasanya untuk orang dewasa adalah kata-kata pujian atau rayuan dari seorang pria pada seorang wanita atau sebaliknya. Untuk anak-anak sebenarnya negeri ini tak kekurangan syair lagu yang sesuai dengan anak-anak. Bahkan pencipta lagu pun banyak. Memang tak mudah membuat syair lagu, tapi untuk anak-anak mereka tak butuh syair yang mendayu-dayu atau harus indah. Yang praktis-praktis dan mudah difahami dan dihapalkan. Seperti lagu jaman dulu itu, ga susah mudah difahami bahkan cukup legend sampai sekarang.
 
Ada yang beranggapan bahwa itu hanya sebuah lagu, tak banyak pengaruhnya. Saya rasa tanggapan itu salah sekali, ibarat kaset kosong anak-anak harus kita beri rekaman dalam benaknya hal-hal yang baik. Jika sejak dini sudah kita beri memori yang tidak sesuai ya apa jadinya. Kata-kata dalam syair lagu itu sedikit banyak bisa berpengaruh pada perkembangan pemahaman kata-kata dari anak tersebut. Setidak-tidaknya dia akan mencari di televise video klip lagu tersebut yang divisualisasikan sesuai isi lagunya. Dan itu tak layak mereka tonton, bila visualisasinya terlalu vulgar buat anak kecil. Anak-anak akan menerima apa adanya semua yang mereka tonton. Dan bila kita sebagai orang tua tidak bias berlaku bijak, ya sudah pastilah akan rusak mental mereka nantinya. Begitu juga dengan tayangan-tayangan yang lain.
 
Apa ya tidak ada pencipta lagu yang mau bikin lagu buat anak-anak. Apa ya lagu anak-anak tidak mempunyai nilai jual yang tinggi. Apa ya tidak ada lagi penyanyi anak-anak dinegeri ini, yang setara dengan Joshua yang sekarang sudah bukan anak kecil lagi. Pencipta lagu berkualitas cukup banyak dinegeri kita, kalo masalah nilai jual, kita bisa lihat beberapa penyanyi anak-anak di waktu yang lalu berhasil mendapat penghargaan karena albumnya punya nilai jual yang tinggi. Apa lagi ? …… Anak-anak yang mau nyanyi dan bersuara merdu banyak sekali. Bahkan orangtuanya rela berkorban apa saja supaya anaknya bisa masuk dapur rekaman.
 
Krisis multidimensional ternyata telah merubah pola piker masyarakat kita. Masyarakat yang dulu arif sekarang berubah beringas menjadi agresif dan kapitalis. Segala sesuatu tolok ukurnya selalu untung dan rugi. Yang wajib kita pikirkan sekarang adalah bagaimana kita membina dan membentuk generasi penerus bangsa kita lebih cerdas dan berkualitas baik secara ilmu maupun keimanan. Kalo sejak kecil sudah diberi masukan hal-hal yang tidak sesuai dengan tingkat pertumbuhan mereka, mau jadi apa negri kita ini. Anak kecil masih ingusan masih pake baju merah putih udah cinta-cintaan, anak-anak TK lagunya bukan lihat kebunku tapi lagunya Nidji.
 
Tolonglah para pembuat lagu, mari kita teruskan langkah-langkah Ibu Sud, Bapak dan Ibu Kasur, AT Mahmud dan lain-lainnya. Selain mengembangkan kesenian mereka juga mengembangkan pendidikan di negeri kita. Juga apa sudah tidak ada film cerita yang bagus dan sesuai untuk anak-anak. Jangan jejali mereka dengan film pertengkaran, perceraian, rebutan pacar, pembunuhan, jual air mata, hantu-hantuan, atau hal-hal yang ga mungkin kaya sinetron si Entong itu (sinetron paling tak hindari) atau acara-acara gossip dan infotainment yang ga pantas buat anak kecil.
 
Ayolah para orang tua yang punya anak, mari kita ajari anak-anak kita nyanyi lagu anak-anak. Buat yang belom punya anak-anak, belajar nyanyi lagu anak-anak dula yaâ

Ditulis oleh Agus Budijanto (Pustakawan FTP UGM)

SaiteAtbildēt

Advertisement